Senin, 06 Juni 2011

Sejarah Menjahit


Menjahit adalah pekerjaan menyambung kain, bulu, kulit binatang, pepagan, dan bahan-bahan lain yang bisa dilewati jarum jahit dan benang. Menjahit dapat dilakukan dengan tangan memakai jarum tangan atau dengan mesin jahit. Orang yang bekerja menjahit pakaian disebut penjahit. Penjahit pakaian pria disebut tailor, sedangkan penjahit pakaian wanita disebut modiste. Pendidikan menjahit dapat diperoleh di kursus menjahit atau sekolah mode.
Produk jahit-menjahit dapat berupa pakaian, tirai, kasur, seprai, taplak, kain pelapis mebel, dan kain pelapis jok. Benda-benda lain yang dijahit misalnya layar, bendera, tenda, sepatu, tas, dan sampul buku.
Di industri garmen, menjahit sebagian besar dilakukan memakai mesin jahit. Di rumah, orang menjahit memakai jarum tangan atau mesin jahit. Pekerjaan ringan yang melibatkan jahit-menjahit di rumah misalnya membetulkan jahitan yang terlepas, menisik pakaian, atau memasang kancing yang terlepas. Sebagai seni kriya, orang menjahit untuk membuat saputangan, serbet, bordir, hingga boneka isi dan kerajinan perca.

Menjahit sudah dikenal orang sejak 20.000 tahun yang lalu,[2] jauh sebelum orang mengenal cara menenun. Jarum jahit sudah dikenal manusia sejak zaman Paleolitik. Pada masa itu, jarum dibuat dari tulang dan gading mamut[3] yang dipakai untuk menjahit kulit dan bulu binatang. Jarum jahit tertua dari besi asal abad ke-3 SM ditemukan di Manching, Jerman. Di makam kuno pejabat Dinasti Han, arkeolog Cina melaporkan penemuan perangkat jahit-menjahit berikut bidal.[2]
Penemu berkebangsaan Inggris, Thomas Saint menciptakan mesin jahit pertama dan sekaligus mematenkannya pada tahun 1790. Sebelumnya, penemu berkebangsaan Jerman, Karl Weisenthal sudah menciptakan jarum mesin jahit yang pertama, namun tidak berhasil menyelesaikan rancangan mesin jahit ciptaannya. Mesin jahit ciptaan Saint tidak diproduksi dan hanya sampai pada tahapan model untuk pendaftaran paten.[2]
Pada 1830, penjahit Perancis Barthelemy Thimonnier menciptakan dan mematenkan mesin jahit yang dapat dipakai menjahit. Delapan puluh unit mesin jahit ciptaannya dipakai oleh Angkatan Darat Perancis untuk menjahit seragam tentara. Thimonnier meninggal dalam keadaan pailit di Inggris setelah pabriknya dihancurkan para penjahit yang merasa pekerjaannya terancam oleh mesin.[2]
Walter Hunt dari New York menciptakan mesin jahit pertama yang menghasilkan jahitan kunci (lock-stitch) pada tahun 1834, namun tidak pernah mematenkannya.[4] Berbeda dari mesin-mesin jahit sebelumnya, mesin jahit ciptaan Hunt dapat membuat jahitan kunci memakai dua benang. Benang atas masuk ke mata jarum berada di ujung jarum, sementara sekoci di bagian bawah mengantarkan benang bawah.[4]
Prinsip mesin jahit dengan jahitan kunci diperbaiki oleh penemu bernama Elias Howe dari Massachusetts. Ia mematenkan mesin jahit ciptaannya pada tahun 1846.[4] Isaac Merritt Singer mulai merancang mesin jahit pertamanya pada tahun 1850. Ide membuat mesin jahit didapatnya dari mesin jahit Orson C. Phelps dari Boston yang diproduksi di bawah lisensi Lerow & Blodgett. Pada 1851, Singer mematenkan mesin jahit jahitan kunci pertamanya, dan mendirikan perusahaan I. M. Singer & Company. Dua tahun berikutnya, Singer sukses sebagai produsen dan penjual mesin jahit terbesar di Amerika Serikat,[5] dan terbesar di dunia pada tahun 1855.[5] Pada tahun 1891, Singer mulai memakai motor listrik untuk menggerakkan mesin jahit untuk industri komersial.[5]
Ebenezer Butterick dari Massachusetts adalah pelopor kertas pola komersial untuk menjahit pakaian. Pada 1863, Butterick dan istrinya menciptakan sistem ukuran untuk pola jadi yang dapat disesuaikan dengan ukuran tubuh pemakai.[6] Sebelum Butterick menjual pola dengan ukuran yang berbeda-beda, pola hanya dibuat dalam satu ukuran, penjahit harus membesarkan atau mengecilkan pola sesuai ukuran tubuh pemakai. Pola kertas dari Butterick menjadi sangat populer pada tahun 1864.[4] Awalnya Butterick hanya menjual pola untuk pakaian pria dan anak-anak, namun mulai menjual pola untuk pakaian wanita sejak tahun 1866.[6] Pada tahun berikutnya, Butterick menerbitkan majalah busana pertamanya, Ladies Quarterly of Broadway Fashions dan majalah bulanan Metropolitan pada 1868. Sebuah majalah untuk memasarkan pola-pola Butterick, The Delineator diterbitkan Butterick pada 1873. Pada 1876, E. Butterick & Co. sudah memiliki 100 cabang dan 1.000 perwakilan di pelosok-pelosok Amerika Serikat dan Kanada. Di Eropa, pola-pola pakaian dari Butterick juga digemari di Paris, London, Wina, dan Berlin.[6]
Aenne Burda menerbitkan majalah mode Burda Moden yang memopulerkan pola siap pakai di Jerman. Sejak 1952, Burda mulai menerbitkan pola pakaian. Setiap bulan Januari dan Juli, Burda menerbitkan katalog terpisah berisi pola-pola untuk lebih dari 600 model pakaian dewasa dan anak-anak.[7]
Di Jepang, Buku teks pertama tentang cara menjahit pakaian Barat untuk pria, diterbitkan pada 1903. Buku tersebut berisi cara menjahit pakaian formal pria seperti tuksedo dan jas.[8] Buku teks pertama tentang cara menjahit baju anak diterbitkan pada tahun 1916 di Osaka. Majalah wanita Shufu no Tomo edisi Maret 1924 memuat cara menjahit gaun terusan satu potong. Majalah Sankei Graph edisi September 1955 memuat artikel tentang kepopuleran sekolah menjahit di Jepang yang waktu itu memiliki lebih dari 5.000 sekolah menjahit.[8] Di Jepang, metode menggambar pola didominasi sistem So-En dari Bunka Fashion College dan sistem Dressmaking dari sekolah Dressmaker Jogakuin (sekarang Dressmaker Gakuin).[8] Dari tahun 1970-an hingga 1980-an, majalah So-En memuat pola pakaian kreasi desainer lulusan Bunka Fashion College.[9] So-En pertama kali terbit pada 1936, dan berawal dari sekolah menjahit baju Barat untuk anak dan wanita yang didirikan Isaburō Namiki pada 1919.[10] Hingga 2005, So-En terbit sebagai majalah yang memuat cara membuat pola dan menjahit pakaian. Setelah itu, So-En berlanjut sebagai majalah industri busana. Pesaingnya, majalah bulanan Dressmaking yang juga memuat pola-pola baju Barat, terbit pertama kali pada 1949.[11] Setelah kepopuleran menjahit di rumah disaingi murahnya pakaian jadi, majalah Dressmaking berhenti terbit pada Mei 1993. Majalah busana Non-no juga tidak lagi memuat artikel tentang cara menjahit sejak Oktober 1994.[8]
 Sumber: id.wikipedia.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar